InvestasiSaham

Strategi Trading Saham? Buy and Hold? atau Trading Jangka Pendek

BISNIS TODAY– Strategi membeli saham kemudian hold, dan jual di harga yang tinggi setelah beberapa minggu atau bulan kemudian, seringkali dianggap sebagai strategi trading yang ideal.

Sebagian orang mungkin setuju bahwa buy and hold merupakan strategi yang cukup baik. Karena banyak investor juga menerapkannya dan bisa disimpulkan demikian.

Buy and hold saham selalu diaplikasikan pada strategi Swing Trading, yaitu metode jual beli saham dimana aset yang ingin diperjual belikan akan ditahan(hold). Selama beberapa hari atau beberapa minggu, kemudian akan dijual pada saat harga saham tersebut mencapai nilai tertinggi.

Namun kenyataannya strategi Swing Trading tidak selalu sukses dan menghasilkan cuan, kenapa? Karena tergantung kondisi market, apakah strategi buy and hold ini efektif atau tidak.

Penulis kerap mendengar trader saham mengatakan, Kalau bisa jual saham di harga tinggi, kenapa harus jual saham terlalu cepat.

Trading saham itu harus beli dan simpan saham, agar bisa jual di harga tinggi. Betul, tidak ada salahnya juga mengatakan hal seperti ini.

Tapi kalau ada trader mengatakan hal ini, sekali lagi, kalimat tersebut tidak spesifik, karena ada beberapa kondisi yang harus anda perhatikan jika anda mau menerapkan buy and hold.

Melakukan strategi buy and hold dengan tepat wajib mempertimbangkan kondisi berikut:

Kondisi market Saham

Berdasarkan pengalaman trading banyak orang, buy and hold efektif diterapkan pada saat market sedang bullish, atau cenderung bullish, pelaku pasar tidak melakukan fenomena jual besar-besaran.

Setelah crash market dan pulihnya IHSG, metode buy and hold juga sangat efektif untuk diterapkan.

Contohnya banyak return terbesar para trader mereka dapatkan ketika IHSG pulih pasca crash market pada 2008 dan 2015.

Karena dengan metode hold ini, banyak saham yang harganya naik drastis dalam kurun waktu tertentu.

Sebaliknya, ketika terjadi crash market, IHSG sedang terjun bebas, pasar saham akan dipenuhi sentimen-sentimen negatif. Nah strategi buy and hold ini kemungkinan besar tidak akan bisa direalisasikan.

Dalam kondisi tersebut, umumnya saham akan lebih cepat turun.

Kalau di pasar sedang terjadi kenaikan dalam satu atau dua hari, maka biasanya saham langsung turun lebih banyak di hari-hari berikutnya.

Pada kondisi ini jika trader memaksakan menerapkan buy and hold dengan jangka waktu lama, kemungkinan besar saham anda akan nyangkut.

Artinya, dalam menerapkan strategi buy and hold, trader juga harus fleksibel, serta melihat kondisi market, jangan terbawa situasi fomo.

Buy and Hold Tidak Selalu jadi Strategi Trading Menguntungkan

Strategi buy and hold tidak selalu jadi strategi trading terbaik, menurut beberapa sumber strategi terbaik adalah sesuai dengan preferensi kalian.

Yang berarti tidak ada salahnya juga jika trader menerapkan strategi trading harian tidak melakukan hold dalam waktu lama.

Jika metode ini dirasa cocok dengan strategi membeli dan menjual saham dengan jarak lebih cepat.

Selama trader bisa menerapkan dengan baik dan berhasil profit, maka tidak harus memaksakan untuk beli dan hold saham terus-menerus.

Karena umumnya tidak semua saham mempunyai tipikal bagus untuk buy and hold.

Misalnya Bursa Efek banyak diisi saham lapis tiga, yaitu saham yang tidak likuid seperti GZCO, BWPT, YPAS, HITS dan banyak lagi.

Saham tersebut tentu tidak cocok kalau diterapkan dengan buy and hold karena punya volatilitas tinggi.

Saham lapis dua wajib dipih (saham LQ45), kemudian perhatikan momentum yang tepat untuk buy, sehingga trader bisa buy and hold di harga yang tepat.

Semoga tips ini membantu para trader biar bisa cuan, semoga membantu good luck.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button